Kau tahu, sedikit demi sedikit, akhirnya raguku pun sampai ke puncaknya. Ia tak hendak ingin denganku. Maka aku akan mulai mencari pengganti meski tak lebih baik darinya.
List, dia selalu bikin aku nunggu. Ini, itu, banyak sekali. Iya, sangat banyak. Aku menunggu begitu lama.
Aku benar-benar sudah tidak ingin ia melakukan apapun untukku lagi. Aku muak, bosan, lalu benci.
Aku tak diusahakannya. Aku ingin dengan yang lain saja. Tak apa bila aku yang mesti banting tulang mencari uang, toh sudah terbiasa sejak kecil.
Orangtuaku pun menyerahkan segala keputusan padaku, kata mereka ketika aku menanyakannya via telepon. Ya sudah, aku juga akan berusaha mengusahakan yang lain.
Kalau bisa dengan orang dekat saja. Kata semua keluargaku. Yang jauh justru kami tidak tahu seperti apa keluarganya, kami tidak mau memilih besan seperti mengambil kucing dalam karung. Aku justru dimarahi.
Iya, aku benar-benar menyerah sekarang. Toh ia tidak pernah serius dengan hubungan ini. Bahkan diperkenalkan kepada anggota keluarganya pun tidak, apalagi keluarganya menyapa pada keluargaku. Aku lebih baik berhenti daripada mendapatkan mertua seperti peroleh kucing dalam karung jua. Orangtuaku sangat kuatir akan itu.
Mana ada mertua yang sayang sama menantunya kayak kami. Apalagi sampai sekarang tidak kelihatan batang hidungnya. Jelas-jelas tidak direstui. Lanjut mereka lagi.
Untung saja ayahku tidak tahu. Aku menghela napas lega. Keluarga besarku juga tidak tahu. Sehingga tak ada yang mesti dipermasalahkan apabila aku hendak berhenti sampai sini.