Susah payah ibumu melahirkanmu, berkorban antara hidup dan mati demi memperjuangkan kehidupanmu. Namun kini kau justru ingin kembali, tak ingin dilahirkan, menginginkan kematian yang belum tentu lebih baik dari kehidupan.
Monday, December 2, 2013
Poetry
Adakah yang lebih merindukan kebebasan dibanding burung kecil dalam sangkar itu
Ia pernah bebas
Dulu
Ya, itu dulu
Namun kini jiwanya terperangkap dalam raga yang tak bisa kemanapun sesuai inginnya
Ia hanya bisa membebaskan matanya
Membebaskan senandungnya
Ia masih bisa berceloteh bersama sang kawan
Terkekeh bersama teman yang biasa datang setiap pagi
Lalu bagaimana bila sang sahabat tak ada lagi?
Bagaimana bila ia bosan tuk kembali?
Atau mati?
Atau sama terbelenggu suatu nanti?
Poetry
TIGA MENIT PENGOBAT RINDU
Tlah lama kita tak jumpa
Tak kudengar lembut suaramu
Tak kulihat indah parasmu
Namun kini
Penantian lamaku berakhir sudah
Terbayar dengan kehadiranmu
Tiga menit yang melegakan
Tiga menit menghapus kerinduan ini
Setiap detik yang kunikmati
Kupejamkan mata ini
Lebih dari 3 menit
Kunikmati bayangmu
Saat-saat bersamamu
Kuputar ingatan
Dalam khayalan
Tetapkanmu dalam pikiran
Kubiarkan kau tinggal di sana
Mengisi kekosongan hati
Poetry
Yang terbersit saat ini hanyalah kekecewaan yang teramat dalam. Bukankah mereka seharusnya bersatu, seperti dulu, membawa kesuksesan atas nama bersama. Tetapi jalan yang mereka pilih sungguh di luar dugaan. Bahkan tak ayal banyak yang menginginkan mereka untuk kembali bersatu kembali, contohnya adalah kami. Ya, kami memang tidak tahu-menahu permasalahan sebenarnya. Namun kami tak ingin tahu, yang kami ingin hanyalah kembali bersatunya wajah-wajah yang dulu berada dalam satu ikatan.
Saatnya kembali menghela napas karena mungkin pendapat ini takkan mereka dengar, kawan. Tapi sudah tak ada jalan untuk menyerah. Anggap saja bahwa menyerah artinya mati. Siapa yang mau mati cuma-cuma, tanpa jasa pada dunia, tanpa dikenang oleh mereka? Memangnya siapa yang mau seperti itu?
Maju atau mati. Kalaupun harus mati saat bergerak, itu lebih baik daripada mati dalam diam. Biarkan hanya raga yang terkubur, jangan membawa impian.
Kami hanya ingin kalian kembali bersatu! Itulah mimpi kami saat ini. Entah akan terwujud atau tidak. Tetapi yang pasti, kami akan menunggu dalam gerakan ini. Gerakan yang kan selalu mendukung kalian, mendorong kalian, mengamati kalian, mendoakan kalian. Kami percaya, takkan ada pengorbanan yang kan sia-sia.
Poetry
Aku suka saat kau menatapku seraya terdiam
Entah kagum, heran, ataupun terpukau
Aku tak tahu, karena kau terpaku
Seraya menghela napas, akupun menatapmu
Tak terdiam, kulanjutkan apa yang tengah kulakukan
Cukup menyeramkan mengingat semua itu
Aku sempat ingin berhenti, kemudian bertanya
"Mengapa kau terdiam?"
Namun kutahu kau tengah mendalami diammu
Aku hanya ingin tahu
Tentang apa yang kaupikirkan dalam diam
Poetry
Tuhan...
Aku ingin ia datang dalam renunganku
Saat kumemanggilnya
Ketika hati ini rindukannya
Tak apa bila hatinya pernah terbagi
Cintaku selalu memaafkannya
Jangan jauhkan ia dariku
Aku tak bisa lalui hari tanpa senyumnya di sisiku
Dear Diary
Minggu, 1 Desember 2013
07:28 WIB
"Dan diriku bukanlah aku, tanpa kamu tuk memelukku, ... kau melegakan aku." Itu teh lagu yang diplay terus-terusan sebelum senam.
-------
10:00 WIB
Ish. Pas senam tadi aku bete lagi. Sekarang aku ngerti kenapa aku suka bete kalo senam di Gymnas. Soalnya, senamnya ga energik, makanya aku bete. Beda banget sama senam UKM yang tiap hari Senin itu.
-------
16:18 WIB
Lagi berinspirasi buat bikin puisi.
Saturday, November 30, 2013
Poetry
Tidak!
Kutegaskan bahwa ini bukanlah sekadar pengabdian
Tetapi kasih sayang
Yang hanya untukmu seorang
Ya!
Hanya kau satu-satunya pendamping hati ini
Meski kasih sayang ini kadang terbagi
Kepada anak-anakmu
Kepada orang tuaku
Kepada keluargaku
Serta tuk keluargamu
Tetapi jangan kau cemburu
Kutegaskan sekali lagi
Hanya kau pendamping hati ini
Wahai bapak dari anak-anakku
Apakah kau hendak berpikir bahwa aku kan berpaling pada pria lain?
Jangan seperti itu
Percayalah
Kasih sayangku kan memelukmu saat dingin
Perhatianku kan sejukkanmu kala panas
Hanya kau tentu
Oh sudahlah
Kemarilah!
Kan kupeluk kau dalam hangat yang nyata
Bukan sekadar mimpi
Bukan pula khayalan
Namun
Meski ini nyata
Kan kupastikan kau terlelap
Dan membawamu masuk ke dalam mimpi
Serta khayal yang indah
Kutegaskan bahwa ini bukanlah sekadar pengabdian
Tetapi kasih sayang
Yang hanya untukmu seorang
Ya!
Hanya kau satu-satunya pendamping hati ini
Meski kasih sayang ini kadang terbagi
Kepada anak-anakmu
Kepada orang tuaku
Kepada keluargaku
Serta tuk keluargamu
Tetapi jangan kau cemburu
Kutegaskan sekali lagi
Hanya kau pendamping hati ini
Wahai bapak dari anak-anakku
Apakah kau hendak berpikir bahwa aku kan berpaling pada pria lain?
Jangan seperti itu
Percayalah
Kasih sayangku kan memelukmu saat dingin
Perhatianku kan sejukkanmu kala panas
Hanya kau tentu
Oh sudahlah
Kemarilah!
Kan kupeluk kau dalam hangat yang nyata
Bukan sekadar mimpi
Bukan pula khayalan
Namun
Meski ini nyata
Kan kupastikan kau terlelap
Dan membawamu masuk ke dalam mimpi
Serta khayal yang indah
Poetry
Kaulah hela di setiap hentakan napasku
Kau nada di detakan jantungku
Kau pelangi yang warnai hariku
Kau mentari yang hangatkan hatiku
Kau bunga yang rangkai indah kasihku
Namun dimanakah kamu?
Aku tahu tak pernah jauh dariku
Subscribe to:
Posts (Atom)