Wednesday, December 4, 2013

Dear Diary

Senin, 2 Desember 2013
18:20 WIB

Lha, aku belom bikin curhatan sedikitpun? :-O

Gini ya, gini. 

Ntar, aku mandi dulu.

-------
21:37 WIB

Entah, barusan yang terjadi aja tuh ngebuat aku yakin kalo cowo sukanya emang "membual". Mudah bilang cinta, meski tanpa rasa. Alhamdulillah aku bukan cowo. Sori-sori aja ya, sekali aku bilang sayang, ya artinya beneran sayang, tanpa toleransi. Terserah percaya atau ngga, itu hak dia.

Oooi, tadi sore kan kumpul senam, tapi sebelumnya aku tidur dulu, mungkin sekitar 1 jam. Bangun-bangun teh udah jam 4 aja, buru-buru aku cuci muka+gosok gigi+pake kerudung+makan beberapa suap.

Nikmat banget deh tidurnya, walau sebentar. Alhamdulillah. Baru bangun tidur langsung senam, tapi seger. Abis senam rasanya teh badan sehat-sehat, padahal intensitasnya lumayan tinggi.

Pagi-pagi sebelum jam 9 aku ON, ngirim tugas LEPPIM sama fisika. Alhamdulillah keduanya selesai tepat waktu dan langsung kukirim.

O iya, besok ada kumpulan buat senam aerobik, ada pengajaran gerakan dasar aerobik, jam setengah 5 sore di depan Sport Hall. Eh, tiba-tiba akang dari Expo Kimia sms, katanya ada kumpul jam 4, ya ga bisa lah, aku udah ada janji lebih dulu sama organisasi. Harus buat janji dulu sebelum kumpulan sama aku mah. Yang mana yang duluan, itu yang diambil.

Yah, begitulah cowok. Gampang banget bilang "i love you". Mungkin dikiranya kalo dia bilang gitu aku bakal tertarik kali. Aku punya mimpi, punya cita-cita, dan punya orang-orang yang akan aku bahagiain. Aku ga akan mudah tertarik sama orang yang ga pernah benar-benar ada, dan orang yang ada tapi cuma lewat.

Ya Allah, hari Kamis kan ada pengumuman syarat kepengurusan. Semoga aja syaratnya bukan "harus hadir tiap Senin dan Kamis", tapi "hadir minimal 3 hari tiap minggu". Please, ya Allah. Please banget. Aku serius di sini, dan aku udah ga mau kecewa. Aku udah bener-bener pengen banget. Aku pengen ada buat orang lain, bukan cuma buat diriku sendiri. Please ya Allah, kabulin ya, aamiin. >.<

Bismika Allahumma ahya, wa bismika aamuut, aamiin. :)

Buenos tardes, nice dream. :)

Monday, December 2, 2013

Poetry

Lihatlah burung kecil itu
Berkicau, entah itu tangis atau tawa
Bersenandung dalam kesendirian
Dalam hening hembusan angin

Kini sepertinya ia bersiul
Memanggil teman-teman atau semacamnya
Aku tak mengerti
Dalam kekehan itu terdengar sahutan
Mungkin mereka saling mengungkap

Ia terdiam
Alihkan pandangannya padaku

Kasian sekali
Burung kecil nan cantik itu terpenjara dalam sebuah kotak yang jua indah
Namun ia terpenjara
Apalah arti keindahan bila itu mengekangnya

Ia melihat sekeliling
Hari yang begitu bebas, namun tidak untuknya

Pernah ia rasakan nikmatnya kebebasan
Ia gerakkan sayapnya kesana-kemari
Arungi langit yang tak selamanya secerah mentari

Namun kini, apalah daya
Matanya bebas, namun tidak dengan raganya
Ia terpenjara

Mungkin ia sudah lupa bagaimana cara untuk terbang
Atau sudah tak ingat cara memikat pasangan
Yang ia ingat saat ini
Mungkin hanya aroma kebebasan yang sudah terenggut dari jiwanya

Ia terpenjara
Meski tanpa dosa
Tanpa salah yang harus dibawa ke pengadilan tinggi
Tanpa ada ketukan palu dari hakim ketua

Namun ia terpenjara
Tak seperti koruptor yang bisa bebas meski berada di penjara

Ia hanya bisa berceloteh
Mencoba bahagia
Dengan kawan yang biasa hadir dalam desiran celoteh yang lain

Ia ingin bebas
Kembali menikmati aroma udara setinggi awan yang mengudara
Menarikan sayap-sayapnya
Bersama yang lain
Bersama kebebasan yang ingin slalu ia dapatkan lagi

My Quote

Susah payah ibumu melahirkanmu, berkorban antara hidup dan mati demi memperjuangkan kehidupanmu. Namun kini kau justru ingin kembali, tak ingin dilahirkan, menginginkan kematian yang belum tentu lebih baik dari kehidupan.

Poetry

Adakah yang lebih merindukan kebebasan dibanding burung kecil dalam sangkar itu
Ia pernah bebas
Dulu
Ya, itu dulu

Namun kini jiwanya terperangkap dalam raga yang tak bisa kemanapun sesuai inginnya
Ia hanya bisa membebaskan matanya
Membebaskan senandungnya

Ia masih bisa berceloteh bersama sang kawan
Terkekeh bersama teman yang biasa datang setiap pagi

Lalu bagaimana bila sang sahabat tak ada lagi?
Bagaimana bila ia bosan tuk kembali?
Atau mati?
Atau sama terbelenggu suatu nanti?

Poetry

TIGA MENIT PENGOBAT RINDU

Tlah lama kita tak jumpa
Tak kudengar lembut suaramu
Tak kulihat indah parasmu

Namun kini
Penantian lamaku berakhir sudah
Terbayar dengan kehadiranmu

Tiga menit yang melegakan
Tiga menit menghapus kerinduan ini
Setiap detik yang kunikmati

Kupejamkan mata ini
Lebih dari 3 menit
Kunikmati bayangmu
Saat-saat bersamamu

Kuputar ingatan
Dalam khayalan
Tetapkanmu dalam pikiran
Kubiarkan kau tinggal di sana
Mengisi kekosongan hati

Poetry

Yang terbersit saat ini hanyalah kekecewaan yang teramat dalam. Bukankah mereka seharusnya bersatu, seperti dulu, membawa kesuksesan atas nama bersama. Tetapi jalan yang mereka pilih sungguh di luar dugaan. Bahkan tak ayal banyak yang menginginkan mereka untuk kembali bersatu kembali, contohnya adalah kami. Ya, kami memang tidak tahu-menahu permasalahan sebenarnya. Namun kami tak ingin tahu, yang kami ingin hanyalah kembali bersatunya wajah-wajah yang dulu berada dalam satu ikatan.

Saatnya kembali menghela napas karena mungkin pendapat ini takkan mereka dengar, kawan. Tapi sudah tak ada jalan untuk menyerah. Anggap saja bahwa menyerah artinya mati. Siapa yang mau mati cuma-cuma, tanpa jasa pada dunia, tanpa dikenang oleh mereka? Memangnya siapa yang mau seperti itu?

Maju atau mati. Kalaupun harus mati saat bergerak, itu lebih baik daripada mati dalam diam. Biarkan hanya raga yang terkubur, jangan membawa impian.

Kami hanya ingin kalian kembali bersatu! Itulah mimpi kami saat ini. Entah akan terwujud atau tidak. Tetapi yang pasti, kami akan menunggu dalam gerakan ini. Gerakan yang kan selalu mendukung kalian, mendorong kalian, mengamati kalian, mendoakan kalian. Kami percaya, takkan ada pengorbanan yang kan sia-sia. 

Poetry

Bisakah kau dengarkan detak jantungku? Dentuman yang mengalunkan aroma cinta?

Poetry

Aku suka saat kau menatapku seraya terdiam
Entah kagum, heran, ataupun terpukau
Aku tak tahu, karena kau terpaku

Seraya menghela napas, akupun menatapmu
Tak terdiam, kulanjutkan apa yang tengah kulakukan

Cukup menyeramkan mengingat semua itu
Aku sempat ingin berhenti, kemudian bertanya
"Mengapa kau terdiam?"
Namun kutahu kau tengah mendalami diammu

Aku hanya ingin tahu
Tentang apa yang kaupikirkan dalam diam

Poetry

Tuhan...
Aku ingin ia datang dalam renunganku
Saat kumemanggilnya
Ketika hati ini rindukannya

Tak apa bila hatinya pernah terbagi
Cintaku selalu memaafkannya
Jangan jauhkan ia dariku
Aku tak bisa lalui hari tanpa senyumnya di sisiku

Dear Diary

Minggu, 1 Desember 2013
07:28 WIB

"Dan diriku bukanlah aku, tanpa kamu tuk memelukku, ... kau melegakan aku." Itu teh lagu yang diplay terus-terusan sebelum senam.

-------
10:00 WIB

Ish. Pas senam tadi aku bete lagi. Sekarang aku ngerti kenapa aku suka bete kalo senam di Gymnas. Soalnya, senamnya ga energik, makanya aku bete. Beda banget sama senam UKM yang tiap hari Senin itu.

-------
16:18 WIB

Lagi berinspirasi buat bikin puisi.