Lihatlah burung kecil itu
Berkicau, entah itu tangis atau tawa
Bersenandung dalam kesendirian
Dalam hening hembusan angin
Kini sepertinya ia bersiul
Memanggil teman-teman atau semacamnya
Aku tak mengerti
Dalam kekehan itu terdengar sahutan
Mungkin mereka saling mengungkap
Ia terdiam
Alihkan pandangannya padaku
Kasian sekali
Burung kecil nan cantik itu terpenjara dalam sebuah kotak yang jua indah
Namun ia terpenjara
Apalah arti keindahan bila itu mengekangnya
Ia melihat sekeliling
Hari yang begitu bebas, namun tidak untuknya
Pernah ia rasakan nikmatnya kebebasan
Ia gerakkan sayapnya kesana-kemari
Arungi langit yang tak selamanya secerah mentari
Namun kini, apalah daya
Matanya bebas, namun tidak dengan raganya
Ia terpenjara
Mungkin ia sudah lupa bagaimana cara untuk terbang
Atau sudah tak ingat cara memikat pasangan
Yang ia ingat saat ini
Mungkin hanya aroma kebebasan yang sudah terenggut dari jiwanya
Ia terpenjara
Meski tanpa dosa
Tanpa salah yang harus dibawa ke pengadilan tinggi
Tanpa ada ketukan palu dari hakim ketua
Namun ia terpenjara
Tak seperti koruptor yang bisa bebas meski berada di penjara
Ia hanya bisa berceloteh
Mencoba bahagia
Dengan kawan yang biasa hadir dalam desiran celoteh yang lain
Ia ingin bebas
Kembali menikmati aroma udara setinggi awan yang mengudara
Menarikan sayap-sayapnya
Bersama yang lain
Bersama kebebasan yang ingin slalu ia dapatkan lagi
No comments:
Post a Comment